Rabu, 05 Desember 2012

PENYEDIA AIR SIAP MINUM OTOMATIS TENAGA SURYA

Oleh : Rochmad Bayu Purnomoaji

Mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Kekeringan merupakan masalah klasik di Indonesia, terlebih jika musim kemarau yang berkepanjangan telah datang dan melanda sebagian besar wilayah. Kekeringan terjadi bukan hanya satu atau dua kali namun telah terjadi sejak negara Indonesia belum terbentuk. Negara Indonesia seperti tidak pernah belajar dari pengalaman.
Air merupakan sumber daya yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi agar tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Air dalam kehidupan sehari-hari manusia keberadaannya sangat penting mulai dari sebagai air minum, untuk mandi, mencuci, sampai untuk keperluan memasak, meliputi sektor pertanian, industri dan perdagangan dan masih banyak lagi penggunaan lainnya. Karena peranannya yang sangat penting maka keberadaannya dan penggunaannya perlu dijaga dengan baik. Sangat pentingnya air terlihat dari hampir separuh penduduk dunia, utamanya di negara-negara berkembang, menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air yang tercemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 2 miliar orang kini menyandang risiko menderita penyakit perut (diare) yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun.
Sangat miris jika kita ketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu dari enam negara yang mempunyai 50% cadangan air minum dunia selain Brazil, Russia, Kanada, China dan Kolombia namun Indonesia juga termasuk negara yang mengalami kekeringan terparah.
Bumi terdiri atas 72% air dan sisanya adalah daratan. Dari sekian banyak air yang terdapat di Bumi, hanya 1% saja yang dapat dikonsumsi langsung oleh manusia tanpa pengolahan terlebih dahulu. Bila dilihat air yang sangat banyak tersebut sangat berpotensi untuk mengatasi kesulitan air minum yang dialami banyak negara termasuk Indonesia, terlebih Indonesia merupakan negara kepulauan. Namun air yang banyak tersebut memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dinyatakan layak dikonsumsi karena sebagian air berada di lautan yang sebagian kandungannya adalah garam. Garam dilautan tersebut harus dikurangi kadarnya sehingga tidak menyebabkan dehidrasi.
Indonesia mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan musim hujan. Ketika musim kemarau datang, akan banyak daerah di Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain ketersediaan air yang secara kuantitas tidak terpenuhi, secara segi kualitas pun sulit terpenuhi. Ketika musim hujan tiba, air memang sangat melimpah namun tidak jarang malah mengakibatkan terjadinya banjir, sungai-sungai menjadi sangat keruh, banyak sumur menjadi kotor akibat banjir, hal tersebut mengakibatkan melonjaknya harga air bersih dan air siap minum. Semua permasalahan tersebut diperparah banyaknya badan air yang telah tercemar. Banyaknya sampah yang mengotori badan air akan membahayakan masyarakat jika mengonsumsinya yang kemudian mengharuskan masyarakat untuk melakukan pengolahan terlebih dahulu jika ingin mengonsumsinya. Pengolahan air untuk siap minum tidaklah mudah memerlukan berbagai metode treatment untuk menjadikan air layak konsumsi selain tidak mudah metode tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit bila air baku sangat buruk kualitasnya.
Air dinyatakan layak dikonsumsi jika memenuhi standar kelayakan dalam parameter Biologi/Mikrobiologi, Kimia, Fisik dan Radioaktif. Untuk memenuhi kelayakan dalam parameter tersebut air baku yang ada harus diolah terlebih dahulu karena sebagian besar air saat ini mempunyai kualitas yang buruk.
Tuntutan kebutuhan air yang tinggi sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat tidak diikuti ketersediaan air yang dapat memenuhi kebutuhan perkapita. Tidak tersedianya air yang cukup diperparah dengan adanya kerusakan iklim atau biasa yang disebut Global Warming. Saat ini sering dialami musim yang tidak menentu, kadang dalam satu tahun terjadi musim hujan yang panjang namun sering juga terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Kerusakan iklim dan alam menyababkan ketersediaan air terganggu.
Kebutuhan akan air yang banyak, kualitas air yang menurun menuntut diciptakannya suatu alat pengolahan air yang murah, mudah dan dapat mengolah air dengan baik sehingga memenuhi standar kelayakan air bersih atau air minum. Permasalahan yang banyak dijumpai pada saat ini adalah kekurangan air yang dapat dipergunakan untuk air minum dan memasak. Untuk pemenuhan keperluan air tawar / air minum pada daerah sulit air, saat ini telah banyak ditawarkan produk air minum dalam kemasan berupa air mineral atau air murni. Juga telah hadir teknologi RO (reverse osmose) yang mampu memproduksi air minum dari air kotor atau dari air laut. Namun demikian, masih dirasa terlalu mahal bagi sebagian orang untuk dapat memiliki ataupun memanfaatkannya. Oleh karena itu perlu dicari sebuah teknologi yang murah dan sederhana. Salah satu alat yang dapat mengolah air menjadi air siap minum adalah PASMOTES atau Penyedia Air Siap Minum Otomatis Tenaga Surya.
Gambar1. PASMOTES
Air minum menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907 / MENKES / SK / VII / 2002 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, Bab 1 Ketentuan Umum Pasal 1 menyatakan bahwa : “Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.”
PASMOTES adalah alat sederhana yang memanfaatkan tenaga panas dari matahari dan radiasi yang dipancarkannya untuk mengolah air yang tidak layak konsumsi (tidak memenuhi parameter kimia, fisik, dan mikrobiologi) sehingga layak langsung diminum atau dikonsumsi. Proses pengolahan air tersebut berupa pendesinfeksian air menggunakan radiasi matahari secara langsung untuk membunuh kuman atau bakteri, kemudian proses penguapan air dengan memanfaatkan panas matahari dan proses pengembunan untuk membuat uap air kembali menjadi air yang siap minum/siap konsumsi. Proses penguapan dan pengembunan kembali tersebut merupakan proses yang dilakukan untuk menurunkan angka kekeruhan (fisik) dan menurunkan kandungan zat kimia berlebih yang terdapat dalam air.
PASMOTES bekerja dengan bergantung dengan adanya sinar matahari yang melimpah ruah di Indonesia. Melimpah ruahnya tenaga matahari yang terus memancar di seluruh Indonesia tak perlu menimbulkan rasa khawatir bahwa Indonesia akan kehabisan energi dan harus mengimpor dari negara lain.
PASMOTES merupakan pengembangan dari Sodis atau Solar Disinfection. Kelebihan PASMOTES dibandingkan dengan Sodis adalah PASMOTES dapat mengolah air menjadi air yang siap minum dan tidak hanya digunakan untuk mendisinfeksi bakteri saja namun dapat mengurangi kadar kekeruhan air dan menurunkan kadar zat kimia berlebih pada air sedang Sodis digunakan hanya untuk mendisinfeksi bakteri atau kuman saja tidak dapat menurunkan kadar kekeruhan dan zat berlebih pada air. Selain itu, PASMOTES juga dapat mengolah air laut menjadi air siap minum.
PASMOTES berbentuk Prisma Trapesium yang terbuat dari kaca pada setiap sisinya. Pada sisi bagian samping dan bawah diberikan warna hitam secara keseluruhan sedang tutup prisma yang miring merupakan kaca transparan. Warna hitam pada sisi bagian samping dan bawah bertujuan untuk menyerap panas sehingga bakteri kuman dapat mati serta meningkatkan suhu air di dalamnya yang mempercepat penguapan air yang diharapkan air olahan yang dihasilkan berjumlah banyak. Sedang tutup prisma yang transparan bertujuan agar sinar UV dari matahari dapat masuk dan mendesinfeksi air sehingga air yang dihasilkan bebas bakteri dan kuman berbahaya.
PASMOTES berbentuk prisma trapesium dengan panjang dan lebar sebesar 100 cm, tinggi sisi pendek 20 cm, dan tinggi sisi panjang 50 cm. PASMOTES dapat menampung air sebanyak 200 liter dalam keadaan terisi penuh. Cara penggunaan alat ini adalah:

  1. Mengisi air olahan / air laut melalui lubang inlet ke dalam PASMOTES.
  2. Setelah terisi setinggi 20cm kemudian PASMOTES dijemur atau dipaparkan dibawah sinar matahari langsung selama minimal 6 jam.
  3. Dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari yang ditangkap pada sisi hitam maka air yang terdapat dalam PASMOTES akan menjadi hangat dan kemudian menguap. Selain itu dengan memanfaatkan sinar UV yang dipancarkan matahari bakteri /kuman patogen yang terdapat di air akan mati.
  4. Penguapan tersebut sebagai proses penurunan kadar kekeruhan air dan zat kimia.
  5. Setelah uap air terbentuk, uap air tersebut akan kontak dengan penutup kaca dikarenakan di dalam PASMOTES kedap udara maka terjadi kejenuhan molekul air karena tekanan yang terjadi dari penguapan yang terjadi terus menerus sehingga uap air tersebut berubah kembali menjadi butiran air yang menempel pada tutup kaca.
  6. Air yang menempel pada tutup kaca akan perlahan mengalir mengikuti kemiringan tutup yang kemudian tertampung pada bagian penampung PASMOTES
  7. Setelah air terdapat pada bagian penampung kemudian dialirkan menuju wadah bersih seperti galon/wadah air bersih yang steril lainnya. 
  8.  Air siap dikonsumsi.

Gambar 2. PASMOTES dari arah samping
Menurut Sugeng Abdullah (2005) dalam Penelitiannya mengatakan bahwa proses distilasi atau penyulingan air dapat menurunkan kadar garam hingga tingkat efisiensi 100% dan dalam pemaparan air pada sinar matahariselama 6 jam dapat menghasilkan air sebanyak kurang lebih 4 liter/hari/m2.
Dari keseluruhan dapat disimpulkan bahwa PASMOTES sangat berguna sebagai alat pengolahan air menjadi air siap konsumsi/air siap minum dan dapat digunakan serta dibuat oleh siapapun sehingga menimbulkan kemandirian pada masyarakat khususnya dalam penyediaan air minum.



                                                                          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar