Oleh : Rochmad Bayu
Purnomoaji
Mahasiswa Jurusan Kesehatan
Lingkungan
Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta
Kekeringan merupakan
masalah klasik di Indonesia, terlebih jika musim kemarau yang berkepanjangan
telah datang dan melanda sebagian besar wilayah. Kekeringan terjadi bukan hanya
satu atau dua kali namun telah terjadi sejak negara Indonesia belum terbentuk.
Negara Indonesia seperti tidak pernah belajar dari pengalaman.
Air
merupakan sumber daya yang memenuhi hajat hidup orang banyak
sehingga perlu dilindungi agar tetap
bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Air dalam kehidupan sehari-hari manusia keberadaannya
sangat penting mulai dari sebagai air minum, untuk mandi, mencuci, sampai untuk
keperluan memasak, meliputi sektor pertanian, industri dan perdagangan dan
masih banyak lagi penggunaan lainnya. Karena peranannya yang sangat penting maka
keberadaannya dan penggunaannya perlu dijaga dengan baik. Sangat pentingnya air terlihat dari
hampir separuh penduduk dunia, utamanya di negara-negara berkembang, menderita
berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air yang
tercemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 2 miliar orang kini
menyandang risiko menderita penyakit perut (diare) yang disebabkan oleh air dan
makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak
setiap tahun.
Sangat miris jika kita ketahui bahwa Indonesia
merupakan salah satu dari enam negara yang mempunyai 50% cadangan air minum
dunia selain Brazil, Russia, Kanada, China dan Kolombia namun Indonesia juga
termasuk negara yang mengalami kekeringan terparah.
Bumi terdiri atas 72%
air dan sisanya adalah daratan. Dari sekian banyak air yang terdapat di Bumi, hanya
1% saja yang dapat dikonsumsi langsung oleh manusia tanpa pengolahan terlebih
dahulu. Bila dilihat air yang sangat banyak tersebut sangat berpotensi untuk
mengatasi kesulitan air minum yang dialami banyak negara termasuk Indonesia, terlebih
Indonesia merupakan negara kepulauan. Namun air yang banyak tersebut memerlukan
pengolahan terlebih dahulu sebelum dinyatakan layak dikonsumsi karena sebagian
air berada di lautan yang sebagian kandungannya adalah garam. Garam dilautan
tersebut harus dikurangi kadarnya sehingga tidak menyebabkan dehidrasi.
Indonesia mengalami dua
musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan musim hujan. Ketika musim kemarau
datang, akan banyak daerah di Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan air
bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain ketersediaan air yang
secara kuantitas tidak terpenuhi, secara segi kualitas pun sulit terpenuhi.
Ketika musim hujan tiba, air memang sangat melimpah namun tidak jarang malah
mengakibatkan terjadinya banjir, sungai-sungai menjadi sangat keruh, banyak sumur
menjadi kotor akibat banjir, hal tersebut mengakibatkan melonjaknya harga air
bersih dan air siap minum. Semua permasalahan tersebut diperparah banyaknya
badan air yang telah tercemar. Banyaknya sampah yang mengotori badan air akan
membahayakan masyarakat jika mengonsumsinya yang kemudian mengharuskan
masyarakat untuk melakukan pengolahan terlebih dahulu jika ingin
mengonsumsinya. Pengolahan air untuk siap minum tidaklah mudah memerlukan
berbagai metode treatment untuk
menjadikan air layak konsumsi selain tidak mudah metode tersebut memerlukan
biaya yang tidak sedikit bila air baku sangat buruk kualitasnya.
Air dinyatakan layak
dikonsumsi jika memenuhi standar kelayakan dalam parameter
Biologi/Mikrobiologi, Kimia, Fisik dan Radioaktif. Untuk memenuhi kelayakan
dalam parameter tersebut air baku yang ada harus diolah terlebih dahulu karena
sebagian besar air saat ini mempunyai kualitas yang buruk.
Tuntutan kebutuhan air
yang tinggi sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat tidak
diikuti ketersediaan air yang dapat memenuhi kebutuhan perkapita. Tidak
tersedianya air yang cukup diperparah dengan adanya kerusakan iklim atau biasa
yang disebut Global Warming. Saat ini sering dialami musim yang tidak menentu,
kadang dalam satu tahun terjadi musim hujan yang panjang namun sering juga
terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Kerusakan iklim dan alam menyababkan
ketersediaan air terganggu.
Kebutuhan akan air yang banyak, kualitas air yang
menurun menuntut diciptakannya suatu alat pengolahan air yang murah, mudah dan
dapat mengolah air dengan baik sehingga memenuhi standar kelayakan air bersih
atau air minum. Permasalahan yang banyak dijumpai pada saat ini adalah
kekurangan air yang dapat dipergunakan untuk air minum dan memasak. Untuk pemenuhan keperluan air tawar / air minum
pada daerah sulit air, saat ini telah banyak ditawarkan produk air minum dalam
kemasan berupa air mineral atau air murni. Juga telah hadir teknologi RO
(reverse osmose) yang mampu memproduksi air minum dari air kotor atau dari air
laut. Namun demikian, masih dirasa terlalu mahal bagi sebagian orang untuk
dapat memiliki ataupun memanfaatkannya. Oleh karena itu perlu dicari sebuah
teknologi yang murah dan sederhana. Salah satu alat yang
dapat mengolah air menjadi air siap minum adalah PASMOTES atau Penyedia Air
Siap Minum Otomatis Tenaga Surya.
Gambar1.
PASMOTES
Air minum menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 907
/ MENKES / SK / VII / 2002 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air
Minum, Bab 1 Ketentuan Umum Pasal 1 menyatakan
bahwa :
“Air minum adalah air yang melalui proses
pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum.”
PASMOTES adalah alat
sederhana yang memanfaatkan tenaga panas dari matahari dan radiasi yang dipancarkannya
untuk mengolah air yang tidak layak konsumsi (tidak memenuhi parameter kimia,
fisik, dan mikrobiologi) sehingga layak langsung diminum atau dikonsumsi.
Proses pengolahan air tersebut berupa pendesinfeksian air menggunakan radiasi
matahari secara langsung untuk membunuh kuman atau bakteri, kemudian proses
penguapan air dengan memanfaatkan panas matahari dan proses pengembunan untuk
membuat uap air kembali menjadi air yang siap minum/siap konsumsi. Proses
penguapan dan pengembunan kembali tersebut merupakan proses yang dilakukan
untuk menurunkan angka kekeruhan (fisik) dan menurunkan kandungan zat kimia
berlebih yang terdapat dalam air.
PASMOTES bekerja dengan
bergantung dengan adanya sinar matahari yang melimpah ruah di Indonesia. Melimpah ruahnya tenaga matahari yang terus
memancar di seluruh Indonesia tak perlu menimbulkan rasa khawatir bahwa Indonesia akan
kehabisan energi dan harus
mengimpor dari negara lain.
PASMOTES
merupakan pengembangan dari Sodis atau Solar Disinfection. Kelebihan PASMOTES
dibandingkan dengan Sodis adalah PASMOTES dapat mengolah air menjadi air yang
siap minum dan tidak hanya digunakan untuk mendisinfeksi bakteri saja namun
dapat mengurangi kadar kekeruhan air dan menurunkan kadar zat kimia berlebih
pada air sedang Sodis digunakan hanya untuk mendisinfeksi bakteri atau kuman
saja tidak dapat menurunkan kadar kekeruhan dan zat berlebih pada air. Selain
itu, PASMOTES juga dapat mengolah air laut menjadi air siap minum.
PASMOTES berbentuk
Prisma Trapesium yang terbuat dari kaca pada setiap sisinya. Pada sisi bagian
samping dan bawah diberikan warna hitam secara keseluruhan sedang tutup prisma
yang miring merupakan kaca transparan. Warna hitam pada sisi bagian samping dan
bawah bertujuan untuk menyerap panas sehingga bakteri kuman dapat mati serta
meningkatkan suhu air di dalamnya yang mempercepat penguapan air yang
diharapkan air olahan yang dihasilkan berjumlah banyak. Sedang tutup prisma
yang transparan bertujuan agar sinar UV dari matahari dapat masuk dan
mendesinfeksi air sehingga air yang dihasilkan bebas bakteri dan kuman
berbahaya.
PASMOTES berbentuk
prisma trapesium dengan panjang dan lebar sebesar 100 cm, tinggi sisi pendek 20
cm, dan tinggi sisi panjang 50 cm. PASMOTES dapat menampung air sebanyak 200
liter dalam keadaan terisi penuh. Cara penggunaan alat ini adalah:
- Mengisi air olahan / air laut melalui lubang inlet ke dalam PASMOTES.
- Setelah terisi setinggi 20cm kemudian PASMOTES dijemur atau dipaparkan dibawah sinar matahari langsung selama minimal 6 jam.
- Dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari yang ditangkap pada sisi hitam maka air yang terdapat dalam PASMOTES akan menjadi hangat dan kemudian menguap. Selain itu dengan memanfaatkan sinar UV yang dipancarkan matahari bakteri /kuman patogen yang terdapat di air akan mati.
- Penguapan tersebut sebagai proses penurunan kadar kekeruhan air dan zat kimia.
- Setelah uap air terbentuk, uap air tersebut akan kontak dengan penutup kaca dikarenakan di dalam PASMOTES kedap udara maka terjadi kejenuhan molekul air karena tekanan yang terjadi dari penguapan yang terjadi terus menerus sehingga uap air tersebut berubah kembali menjadi butiran air yang menempel pada tutup kaca.
- Air yang menempel pada tutup kaca akan perlahan mengalir mengikuti kemiringan tutup yang kemudian tertampung pada bagian penampung PASMOTES
- Setelah air terdapat pada bagian penampung kemudian dialirkan menuju wadah bersih seperti galon/wadah air bersih yang steril lainnya.
- Air siap dikonsumsi.
Gambar 2.
PASMOTES dari arah samping
Menurut Sugeng Abdullah
(2005) dalam Penelitiannya mengatakan bahwa proses distilasi atau penyulingan
air dapat menurunkan kadar garam hingga tingkat efisiensi 100% dan dalam
pemaparan air pada sinar matahariselama 6 jam dapat menghasilkan air sebanyak
kurang lebih 4 liter/hari/m2.
Dari keseluruhan
dapat disimpulkan bahwa PASMOTES sangat berguna sebagai alat pengolahan air
menjadi air siap konsumsi/air siap minum dan dapat digunakan serta dibuat oleh
siapapun sehingga menimbulkan kemandirian pada masyarakat khususnya dalam penyediaan
air minum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar